Rabu, 27 Mei 2020

Inilah Umma Id Aplikasi Portal Islami Umma Muslim Terbaik di Indonesia

Mei 27, 2020 // by mirajudin // , , , // No comments


Platform muslim, Umma, yang didirikan oleh anak muda Indonesia, meluncurkan aplikasi mobile yang memberikan berbagai informasi untuk mempermudah ibadah umat Islam. Berbeda dengan aplikasi portal Islami Umma muslim lainnya, umma menawarkan berbagai konten Islami yang dipersonalisasi dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dan fitur komunitas.

Berbagai fitur  yang teredia di aplikasi Umma.ID seperti:

  • Fitur Penunjang Beribadah – terdiri dari waktu shalat dan penunjuk arah kiblat yang dapat digunakan di lokasi manapun berbasis GPS.  Fitur Al Qur’an dan Terjemahan umma memiliki kelebihan dengan menawarkan kumpulan rekomendasi ayat-ayat Al-Quran dengan berbagai tema kehidupan.
  • Fitur Konten – Konten pada umma terdiri dari beragam artikel serta berbagai video kajian dan ceramah ustadz yang telah diverifikasi dan dimoderasi. Sebagai platform teknologi, konten umma dipersonalisasi sesuai ketertarikan pengguna dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
  • Fitur Komunitas – Berisikan grup percakapan yang dimoderasi untuk memfasilitasi pengguna umma yang berasal dari beragam latar belakang untuk berdiskusi maupun melakukan tanya jawab dengan ustadz pembina grup tersebut.

Program Ramadan Umma.ID

Khusus di bulan Ramadhan tahun ini, Umma.id juga tidak mau ketinggalan untuk berpartisipas. Aplikasi ini juga ikut  menawarkan dukungan kemudahan bagi umat Islam dalam beribadah, belajar, berinteraksi serta berbagi informasi antar sesama selama bulan suci ini. Terlebih, saat ini dunia tengah dilanda wabah pandemic virus COVID 19 sehingga kebanyakan penduduk bumi berada di dalam rumah sebagai upaya terbaik agar tidak terkena dampak virus ini.

Begitupun dengan kaum muslimin, bahkan ibadah yang biasanya dilakukan di masjid kini dilakukan di rumah saja. Untuk itulah, Umma Ramadhan meluncurkan  fitur spesial yang dihadirkan untuk memaksimalkan ibadah umat muslim di rumah selama bulan Ramadan kali ini, yakni Fitur Jurnal Ibadah Harian, Fitur Klinik Baca Al- Qur’an,  dan Fitur Live Streaming Kajian.

Diharapkan fitur-fitur ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin mengingat saat ini kaum muslimin dianjurkan untuk berada di rumah saja karena  tidak memungkinkannya melakukan pertemuan atau ibadah di tempat-tempat umum, seperti ikut kajian keislaman di majelis-majelis ilmu.

Selain itu, masih banyak lagi tawaran menarik yang ditawarkan kepada para pengguna setia maupun pengguna baru Umma.id sepanjang bulan Ramadhan ini.

Fakta Pengelolaan Zakat Bulan Ramadan di Tengah Pandemi COVID-19 Umma Ramadhan

Mei 27, 2020 // by mirajudin // , , // No comments


Peran strategis zakat semakin penting adanya. Di tengah menurunnya berbagai industri akibat pandemi COVID-19, harapan semakin besar justru ada pada zakat untuk bisa mengambil peran lebih besar dan luas.

Di tengah Pandemi COVID-19, gerakan zakat semakin bergeliat. Dengan dukungan semangat kedermawanan masyarakat, organisasi pengelola zakat terus membantu masyarakat terdampak pandemi, bahkan hingga ke pelosok-pelosok daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) di Indonesia.

Bahkan, bantuan gerakan zakat Indonesia mengalir juga ke sejumlah negeri-negeri yang jauh seperti Palestina, Suriah, Rohingya hingga ada sebagian juga yang membantu suadara-saudara muslimnya di Timor Leste yang dulunya bernama Timor Timur. Inilah fakta pengelolaan zakat bulan Ramadhan di Umma Ramdhan :

Ramadan dan Harapan Lembaga Pengelola Zakat

Ramadan baru saja berlalu. Gema takbir pun datang bertalu. Kegembiraan menyambut hari Raya Idul Fitri tetap terpancar dari wajah-wajah teduh umat Islam walau pandemi masih melingkupinya. Tak ada halangan kegembiraan bagi mereka yang baru saja mengakhiri rangkaian ibadah puasa sebulan penuh lamanya.

Bagi gerakan zakat, Ramadan adalah bulan istimewa, juga sangat penting. Salah satu alasannya tak lain adalah adanya kebiasaan umat Islam di negeri ini yang menjadikan bulan ini sebagai momen kedermawanan dan kepedulian terhadap sesama. Di bulan ini pula, banyak para muzaki yang mengganggap titik siklus periode berzakatnya ya dimulai atau harus dikeluarkan zakat harta-nya (zakat maal) pada bulan ini.

Dampak dari kecenderungan muzaki tadi berkorelasi pada penghimpunan pada bulan ini yang menjadi lebih besar daripada bulan lain. Di tambah anjuran beramal saleh di Ramadan juga dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT, jelas mendorong semangat berinfak dan sedekah juga tumbuh semakin kencang.

Dengan maraknya kebiasaan berzakat, infak dan sedekah masyarakat, tak heran lembaga-lembaga zakat seakan "habis-habisan" mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk memaksimalkan potensi zakat, infak dan sedekah di bulan ini. Sejumlah organisasi pengelola zakat juga berlomba memberikan edukasi, sosialisasi serta kampanye terkait zakat, infak dan sedekah. 

Adanya kebijakan social distancing dan physicial distancing juga aturan PSBB di berbagai tempat, jelas gerai atau tempat khusus untuk berzakat pun mengalami penyesuaian. Kemudahan ini pun akhirnya bergeser dari kontak fisik secara off line menuju ke arah kontak via sarana on line (daring).

Setidaknya, ada tiga (3) fakta yang terjadi di Ramadan tahun ini. Di bawah ini secara singkat ketiga fakta tadi kami uraikan secara sederhana.

Pertama, prediksi adanya tren penurunan penghimpunan zakat, benar terjadi.

Beragam pihak telah memperbincangkan hal ini sejak awal. Mulai dari Forum Zakat (FOZ), Baznas, KNEKS, Kementrian Agama hingga para peneliti dan pengamat filantropi. Dengan mengacu pada terjadinya penurunan ekonomi, diduga akan berimbas pula pada penurunan penghimpunan zakat, infak dan sedekah. 

Terkait survei pada organisasi pengelola zakat, salah satu yang menarik untuk dicermati adalah yang dilakukan oleh Dalam penelitian yang disampaikan IDEAS (Institute For Demographic and Poverty Studies).

Survei yang dilakukan pada akhir April terhadap para pegiat zakat di Indonesia di sejumlah lembaga pengelola zakat dan filantropi menunjukan adanya kenyataan yang ada di tengah gerakan zakat. Survei yang dilakukan fokus untuk mengetahui dampak pandemi terhadap pengumpulan donasi di lembaga sosial.

Survei yang dikerjakan IDEAS dilakukan secara daring terhadap 100 orang. Sebanyak 49 persen responden merupakan pegiat sosial yang bekerja di lembaga amil zakat, 15,3 persen bekerja di lembaga yayasan sosial, dan 35,7 persen bekerja pada bisnis sosial atau social enterprise.

Dari akhir survei, didapat sebuah kesimpulan bahwa Pandemi COVID-19 telah menurunkan penghimpunan donasi di lembaga amil zakat (LAZ) hingga mencapai 50 persen. 

Data lapangan sebenarnya terkait penghimpunan zakat di bulan Ramadan tahun ini hingga akhir Ramadan masih sedang dikumpulkan FOZ. Namun dari sejumlah lembaga yang ada, didapat sejumlah informasi awal.

Pertama, sebagian besar lembaga mengakui bahwa memang Ramadan tahun ini ada penurunan penghimpunan zakat, infak dan sedekah.

Kedua, telah terjadi juga pergeseran jenis donasi. Bila sebelumnya zakat, infak dan sedekah cukup terhimpun signifikan. Maka di Ramadan tahun ini sejumlah lembaga zakat menginformasikan bahwa ada peningkatan di sisi donasi terikat, khususnya untuk bantuan bagi warga terdampak COVID-19. 

Beberapa mitra atau muzaki yang berbentuk perusahaan atau korporasi ada yang stabil bisnisnya, pun ada juga yang terdampak dan mengalami penurunan. Sejumlah lembaga menyampaikan bahwa ada beberapa perusahaan yang sebelumnya aktif membayar zakat pada setiap bulan Ramadan, sekarang justru mengalami kendala bisnisnya, bahkan ia harus memberikan pesangon pada karyawannya yang terkena PHK.

Bagi perusahaan yang mengalami kendala berat karena pandemi COVID-19, urusan berzakat atau sedekah jadi tergeser prioritasnya. Dana yang biasanya digunakan untuk membayar zakat atau berdonasi, sekarang diberikan pada karyawan sendiri yang juga membutuhkan bantuan, apalagi yang terkena PHK.

Di situasi pandemi, ada pula beberapa perusahaan meminta secara khusus zakatnya agar dialihkan untuk warga miskin terdampak COVID-19. Permintaan dari donor atau muzaki ini tak sedikit jumlahnya, pun pada teknisnya juga beragam.

Ada yang minta dibagikan dalam bentuk bantuan APD bagi tim medis, masker bagi masyarakat miskin dan ada pula yang meminta diberikan pada mustahik dalam bentuk sembako atau makanan siap saji.

Kedua, Digital marketing terbukti menjadi solusi

Sebelum adanya pandemi seperti tahun ini, Ramadan biasanya lebih semarak karena edukasi, sosialisasi dan kampanye zakat, infak dan sedekah sangat marak. Beragam bentuk kampanye zakat hadir ditengah masyarakat, baik dalam bentuk spanduk, baliho, billboard hingga selebaran.

Tahun ini strategi konvensional seperti tahun-tahun sebelumnya tidak lagi dilakukan, kini sosialisasi dan kampanye zakat bertumpu pada saluran digital. Media sosial dan seluruh varian kampanye zakat berbentuk daring digenjot untuk menjangkau para muzaki maupun calon muzaki baru. 

Dalam kondisi sebagian perusahaan memberlakukan WFH (Work From Home) jelas situasinya berbeda. Kanal atau media komunikasi yang digunakan pun menjadi terbatas. Banyak komunikasi akhirnya digeser lebih banyak secara digital.

Termasuk ke dalam hal ini adalah kebiasaan muzaki yang menyukai dilayani secara langsung, bertemu muka, didoakan langsung hingga konsultasi agama pun diedukasi untuk berubah. Demikian pula untuk muzaki yang sebelumnya senang menyalurkan zakatnya melalui konter atau gerai diedukasi untuk beralih melalui media digital.

Di tengah pandemi global akibat COVID-19, zakat melalui digital tak terhindarkan. Walau pada awalnya masih merupakan alternatif dari beragam kanal dan pilihan yang ada, namun di tengah pandemi, hal ini kini menjadi yang paling diandalkan. 

Gojek misalnya yang kini mempunyai layanan pembayaran digital yang bernama Gopay. Masyarakat pun dengan mudah memanfaatkan sejumlah transaksi daring untuk beragam keperluan mereka. Bahkan perkembangan terkini bisa juga untuk berdonasi, zakat, infak maupun sedekah melalui Gopay.

Perkembangan ini tentu menggembirakan, kini bahkan ide memanfaaatkan crowdfunding untuk zakat, infak dan sedekah semakin luas dan massif. Berbagai aplikasi secara mandiri dibuat lembaga-lembaga zakat untuk menjaring donasi, zakat maupun infak dan sedekah dari masyarakat.

Berbagai channel online untuk memudahkan muzaki dan calon muzaki membayarkan zakatnya pun bermunculan, seperti web donasi, crowd funding, e-banking, e-commerce termasuk e-wallet.

Selain hal tadi, sejumlah lembaga zakat juga semakin mengintensifkan layanan digital, dengan fasilitas donasi mobile QR Code. Layanannya penghitungan zakat dan payment gateway berbasis teknologi dengan pemanfaatan bar code. Program lainnya juga dilakukan berupa layanan rekening ponsel yang memberikan fasilitas untuk lebih mudah mentransfer.

Perkembangan zakat digital semakin kini semakin meningkat. Hal ini dikarenakan transaksi daring memiliki daya tawar yang cukup tinggi. Kecepatan, kemudahan, hingga keamanan menjadi pertimbangan pengguna sehingga memilih transaksi daring.

Maka di tengah imbauan social distancing, di rumah aja, hingga PSBB inilah, transaksi zakat secara daring semakin relevan. Setidaknya, ada lima keuntungan yang diperoleh muzaki saat berzakat secara online yaitu : mudah, aman, cepat, nyaman dan terpercaya.

Terkait untuk mempercepat pergeseran ke arah digital. Sekaligus pembangunan kepercayaan publik akan lembaga-lembaga zakat yang bermain di ranah digital. FOZ di Ramadan tahun ini, tepatnya di moment hari zakat nasional tahun 2020 yang jatuh setiap tanggal 27 Ramadan, FOZ menyemarakkan Hari Zakat Nasional dengan semangat berzakat secara online.

Bertajuk “Hari Zakat Online Nasional” peringatan ini secara konsisten memiliki tujuan untuk mensyiarkan syari’at zakat serta mengajak masyarakat untuk berzakat melalui lembaga anggota Forum Zakat yang ada di seluruh wilayah Indonesia.

Forum Zakat juga menyampaikan bahwa Insyaallah lembaga-lembaga anggota FOZ bisa dipercaya saat mereka bergerak di ranah digital ketika mengelola zakat. FOZ mendorong adanya pendataan yang rinci dengan laporan penyaluran yang massif dan dapat dikirim kapan saja melalui email dan berbagai sarana pelaporan secara cepat dan tepat.

FOZ meminta hal ini dilakukan agar semua anggota FOZ mampu menunjukkan bahwa kemudahan, kecepatan, keamanan serta kenyamanan sesungguhnya akan bermuara pada tumbuhnya kepercayaan dari masyarakat, terutama dari para muzaki.

Ketiga, "New Normal" di gerakan zakat telah dimulai secara dini

Saat pandemi COVID-19 baru mulai, bahkan di tengah situasi yang serba belum pasti, gerakan zakat secara perlahan beradaptasi. Proses menyesuaikan diri dalam setiap tahap dan kebijakan ini bahkan jauh sebelum muncul istilah "New Normal". 

Gerakan zakat secara sadar memahami bahwa di tengah pandemi yang masih terus berlanjut dan dinamika-nya agak sulit diprediksi kapan berakhirnya. Tetap diperlukan kehati-hatian langkah dan tindakan di tengah penanggulangan wabah COVID-19 hingga saat ini. 

Kampanye untuk segera relaksasi, dan mengarah ke kehidupan "New Normal" di tengah ancaman wabah yang masih tinggi jelas bisa melalaikan para amil dan keluarga besarnya, termasuk muzaki dan mustahik mereka. Sebaiknya lembaga-lembaga zakat tetap patuh pada kebijakan dan protokol untuk menjaga dan menghindari pandemi COVID-19 seperti selama ini.

Bagi para amil, harus tetap waspada bahwa memang ada situasi yang harus terus diperhatikan dan dijaga. Dan karena secara real berbagai aktivitas hingga saat ini memang belum normal seperti sebelumnya, maka yang lebih sesuai untuk sikap para amil adalah memilih sikap untuk beradaptasi.

"New Adaptation" alias adaptasi baru terhadap situasi dan perkembangan di lapangan lebih sesuai karakternya dengan gerakan zakat. Toh para amil dan lembaga-lembaga zakat juga selama ini telah terdidik secara baik dalam bingkai ajaran Islam bahwa Islam mengajarkan kita semua untuk senantiasa beradaptasi dengan situasi yang ada di setiap zaman.

Dalam praktiknya di lapangan, selain beradaptasi dalam sisi penghimpunan zakat-nya. Lembaga pengelola zakat juga suka atau tidak suka harus menyesuaikan diri dalam mendistribusikan dan menyalurkan zakatnya.

Pelonggaran atau bahkan penghentian pembatasan sosial lebih banyak dilihat dari sisi ekonomi. Hal ini terutama dalam perspektif ekonomi mikro. Logika pengambilan keputusan soal "New Normal" lebih pada soal logika. Ini juga lebih ke arah urusan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Toh kita juga tahu, kalau soal kebutuhan pokok, manusia kadang berani mengambil risiko apapun.

Namun, hal penting harus dilakukan sekarang adalah kita terus menjaga diri dan kesehatan secara serius dan bersungguh-sungguh. Ini semua perlu kita lakukan agar kita dan keluarga juga tetap kuat iman-nya juga imun-nya meningkat secara baik.

Iman penting untuk menjaga keseimbangan hidup, juga untuk memberi warna dan semangat hidup terus menyala bak pelita. Dengan iman yang kuat dan kesehatan yang prima, kita juga akan mampu menjalani hidup dengan baik. 

Ada badai memang saat ini berupa pandemi COVID-19, namun yakinlah bahwa sekuat apapun badai itu datang, pastilah ia akan berlalu. Di tengah badai ini, pastikan cara pandang dan keimanan kita pada Allah SWT tetap lurus dan terjaga. Yakinlah bahwa dibalik kekuatan badai yang seolah akan menghancurkan kapal yang kita naiki, ada kekuatan Allah SWT yang jauh lebih besar dari kekuatan badai yang saat ini datang.

Walau dikepung kuatnya ketidakpastian, serta godaan untuk takut, prustasi dan menyerah kalah, namun peliharalah keyakinan kuat kita bahwa Allah tetap berperan dalam badai kali ini. Kekuatan Allah tetap pada waktunya yang akan mengalahkan dan memusnahkan badai pandemi yang terjadi saat ini.

Kita juga terus bertahan dalam kesabaran terbaik untuk menjaga diri masing-masing. Selalu memakai masker bila keluar rumah, minum vitamin, rajin mencuci dan menjaga kebersihan tangan dengan bercuci tangan yang benar dan memakai sabun, memakai hand sanitizer bila diperlukan serta tetap berusaha menjaga jarak yang aman ketika ada orang lain di sekitar kita.

Jangan Lupa Bahagia

Dan di era "New Normal", atau adaptasi baru kita, jangan lupa untuk tetap bahagia. Bahagia adalah resep paling ampuh yang teruji mampu menumbuhkan dan meningkatkan imunitas tubuh kita. Semakin bahagia hidup kita, Insyaallah semakin kita mampu mengendalikan diri, juga emosi kita dengan baik.

Kunci keberhasilan para amil dalam melewati badai pandemi COVID-19 ini sekali lagi adalah pikiran yang positif dan hati yang bahagia. Dengan kesehatan raga yang di dukung kesehatan jiwa yang prima. Insyaallah seberat apapun tekanan hidup akibat Pandemi COVID-19 ini akan berhasil dilalui para amil dan lembaga zakatnya dengan selamat.